Kehadiran Ibu Maya memang mengubah segalanya, tapi tidak dalam cara yang dramatis atau berlebihan. Ia mengajarkan kami nilai‑nilai sederhana: kebersihan, kerja sama, rasa syukur, dan pentingnya menjaga hubungan keluarga. Kami belajar bahwa perubahan tidak selalu datang dengan guncangan besar; kadang, ia datang dalam bentuk kehangatan seorang ibu yang memutuskan untuk tinggal beberapa minggu bersama anak menantunya.

Aku menatap suamiku, Arif, yang sedang membaca koran di sofa. Wajahnya berubah menjadi campuran keheranan dan kelegaan. “Bagus, Bu. Kami tunggu saja,” balasnya singkat, lalu kembali menengok koran.

Bab 2 – Penyesuaian Awal

Epilog – Pelajaran yang Kami Bawa Pulang

Hari‑hari pertama memang penuh adaptasi. Ibu Maya membantu mencuci pakaian, menyiapkan masakan tradisional, dan bahkan mengajarkan beberapa resep baru yang belum pernah kami coba. Ia selalu menanyakan kabar Arif dan aku, menanyakan apakah kami membutuhkan sesuatu yang lain. Kehadirannya seperti angin segar yang mengusir kebosanan rutinitas kami.

“Sayang, aku… Aku datang besok. Tidak ada lagi keraguan. Aku akan tinggal bersama kalian untuk beberapa minggu ke depan,” kata Ibu Maya, ibu mertuaku, dengan nada yang sedikit cemas.